Raja Kejahatan

Raja Kejahatan

Penulis:Mengedipkan mata
25ribu kata Palavras
0kunjungan visualizações
100bab Capítulo

Menapaki jalan sebagai tokoh antagonis hingga gelap gulita? Setelah hampir dua puluh tahun berakting, jangan tanya soal masa lalu kelam—bahkan sepotong sejarah pun tak tersisa! Kini kembali ke tahun 2

Bab Satu: Jika aku harus memainkan peran ini lagi, aku tidak akan pernah menjadi tokoh antagonis lagi!

Langit tahun 2002 ternyata tidak sebiru yang ada dalam ingatan. Baru saja bulan Maret lewat, Beijing mengalami badai pasir terkuat dalam sejarah, udara dipenuhi warna kekuningan, hingga setiap tarikan napas yang dihirup Ji Yun terasa seperti penuh asap dan debu.

Hujan baru turun kemarin, namun udara tetap kering seperti selembar amplas kasar.

Ji Yun berjongkok di pinggir jalan, kepanasan seperti anjing peliharaan, matanya melirik ke sekeliling, dalam benaknya terus melintas adegan-adegan dari kisah Si Unta.

Semua serba kering, serba panas, serba pengap; seluruh kota tua bagai tungku bata yang membara, membuat orang sulit bernapas.

Keluar dari ruang bawah tanah yang gelap, pemandangan bangunan tua dan orang-orang berpakaian sederhana langsung menyambut, membuat Ji Yun semakin berat menghirup udara.

“Benar-benar sudah menyeberang waktu.”

Ji Yun di kehidupan sebelumnya hanyalah aktor kelas bawah, meski tak punya banyak penggemar, namun namanya cukup dikenal di kalangan aktor spesialis peran tertentu.

Terkenal sebagai pemeran antagonis.

Wajahnya dengan mata tiga bagian putih, rahang kasar, sudut bibir menurun, begitu menyipitkan mata sudah seperti menuliskan kata “kejam” di dahinya.

Rekan-rekan seprofesi menilainya begini: kalau Ji Yun tidak main jadi penjahat, rasanya seperti menodai selera seluruh penonton negeri.

Dengan “bakat” bawaan ini, ia tak pernah kekurangan peran.

Tapi terlalu sering memerankan penjahat, lama-lama juga muak!

Merasa sudah cukup matang dalam berakting, Ji Yun akhirnya menolak taw

📚 Rekomendasi Terkait

Peringkat Terkait