Bab Empat Puluh Enam: Si Pembangkang
“Pak Guru Mao, sudah lama tidak bertemu.”
Ketika Ji Yun tiba di belakang panggung, ia mendapati bahwa penata rias drama ini masih wajah lama itu.
Mao Geping tersenyum, “Kau sekarang sudah naik kelas, jadi pemeran utama pula.”
“Riasan yang Anda desain untuk saya di drama sebelumnya sangat luar biasa, berhasil menarik banyak penggemar. Popularitas saya pun ikut naik, akhirnya dipercaya jadi pemeran utama.”
Sudut bibir Mao Geping terangkat penuh kepuasan—terlepas benar atau tidak, ucapan itu tetap menyenangkan hatinya.
“Kali ini kau mau didandani seperti apa?”
“Kali ini saya serahkan sepenuhnya pada Pak Guru Mao.”
Di dunia penataan gaya, Ji Yun memang hanyalah orang luar. Daripada mengutarakan pendapat, lebih baik menyerahkan sepenuhnya kepada ahlinya.
“Baik, lihat saja hasilnya nanti!”
Mao Geping langsung bekerja tanpa ragu, jelas sudah punya gambaran di kepalanya.
Pertama kali merias wajah memang selalu merepotkan. Bentuk wajah yang tak sesuai dugaan kadang membuat hasil riasan yang telah dipersiapkan matang jadi kurang maksimal. Untungnya, Mao Geping sudah pernah bekerja sama dengan Ji Yun dan cukup mengenal bentuk wajahnya.
Kali ini, investasi produksi untuk kostum dan riasan jauh lebih besar, sehingga ia bisa bebas mengekspresikan keahliannya di wajah Ji Yun.
Meski sudah pernah bekerja sama, proses kali ini tetap memakan waktu lebih dari setengah jam.
Pintu ruang rias didorong terbuka, Ji Yun melangkah keluar dengan anggun.
“Lumayan,” komentar Yu Min dengan nada agak kaku sembari mengangguk.
Bukan hanya lumayan! Luar biasa!
Alis Ji Yun kini terlihat tebal dan panjang, memberi kesan sedikit garang, namun sudut matanya yang diperhalus justru menonjolkan aura muda pada wajahnya. Garis rahang dan bayangan di sisi hidung berpadu sempurna, menghapus kesan kaku akibat riasan. Sudut bibir yang dibuat sedikit terangkat membuatnya tampak seolah tersenyum meski tanpa ekspresi.
Di tepi pakaian, hiasan rumbai tipis bergoyang pelan tertiup angin, menambah kesan anggun dan seolah tak tersentuh duniawi.
Penampilan keseluruhan tampak begitu menyatu dan alami!
Bahkan Yu Min yang terkenal jeli pun tak bisa menemukan cela sedikit pun.
“Kalau sudah siap, langsung mulai syuting,” ucap Yu Min, menepuk bahu Ji Yun dan berbalik pergi.
Demi mempercepat proses syuting, tim produksi drama Legenda Rajawali membagi kru menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama adalah jalur masa muda, dibintangi oleh Xie Yunshan. Anak ini kemarin tampil “lumayan”, jadi langsung dibimbing sendiri oleh Yu Min.
Kelompok Ji Yun menangani jalur dewasa, terutama kisah setelah Yang Guo dewasa, sementara Liu Yiqian yang perannya muncul di kedua jalur, harus bolak-balik di antara dua kelompok.
Sutradara untuk jalur dewasa adalah seorang pemuda bermarga Yang.
Kabarnya dia anak dari salah satu investor, datang ke lokasi hanya untuk mencari pengalaman.
Penampilannya baru dua puluhan, sebaya dengan Ji Yun, namun ia tak punya ketenangan seperti Ji Yun, sikapnya terkesan lebih lincah dan ceroboh.
Yu Min yang berpandangan tradisional kurang suka dengan praktik “titipan” semacam ini, tapi tak bisa berbuat banyak karena berhadapan dengan investor. Agar tidak pusing, Yu Min menempatkannya di kelompok dewasa, toh di depan kamera hanya duduk saja, urusan pengarahan dan pengambilan gambar diserahkan ke asisten sutradara di sampingnya.
Aktor-aktor di kelompok Ji Yun tak ada masalah dalam akting, jadi kendali kamera oleh dirinya tak sampai menghambat proses pengambilan gambar.
Yu Min bisa tenang, tetapi para aktor kelompok dewasa merasa agak risih.
Meski si pemuda baru itu datang dengan sikap rendah hati dan ingin belajar, dalam matanya masih tersirat rasa angkuh dan menyepelekan.
Para aktor senior yang sudah makan asam garam dunia hiburan, tentu tahu persis siapa dia sebenarnya.
Di depan dipanggil “Tuan Muda Yang”, namun di belakang mereka menjulukinya “pemuda tolol”.
Yang tak mereka sangka, pemuda itu pertama kali menunjukkan kuasanya justru pada Ji Yun.
Adegan kali ini adalah ketika Lu Wushuang melarikan diri dari kejaran Li Mochou dan berselisih dengan para pengemis di jalan. Yang Guo di dekat situ melihat Lu Wushuang berkelahi dengan para pengemis dan mendapati ekspresi marah Lu Wushuang mirip dengan Xiaolongnu, lalu ia turun tangan membantu.
Demi mencari Xiaolongnu, Yang Guo menyamar jadi pemuda bodoh penebang kayu. Dalam pertengkaran Lu Wushuang dan para pengemis, kayu bakar yang dibawanya terjatuh dan basah, sehingga ia pun menangis dan bertingkah konyol.
Adegan ini sebenarnya sederhana. Ji Yun yang sudah lebih dari dua puluh tahun berkecimpung di dunia akting, sangat paham pola drama TV. Ia pun tampil santai, namun belum berapa lama, sudah dihentikan.
“Ji Yun, menurutku aktingmu kurang total,” ujar Tuan Muda Yang dengan dahi berkerut, seolah sedang berpikir keras.
Ji Yun sempat tertegun, lalu mengangguk. Sebenarnya ia memang kurang fokus untuk adegan ini. Mungkin bagi sutradara biasa sudah cukup, tapi tak disangka Tuan Muda Yang punya standar tinggi juga.
Ia memberi isyarat ok, lalu mengusap wajah, mencoba membangun kembali emosinya.
“Kayuku! Kayu bakarku, kalian harus ganti kayuku!”
“Cut!” Belum selesai bicara, dari pinggir kembali terdengar instruksi untuk berhenti.
Kali ini Ji Yun mengerutkan dahi. Ia merasa akting barusan tidak ada masalah.
Kalau kritikusnya adalah tokoh besar seperti Feng Yuanzheng atau Bintang, ia pasti terima. Tapi Tuan Muda Yang ini sebaya dengannya, Ji Yun tak yakin ia punya kemampuan sehebat para aktor kawakan dalam menilai akting, apalagi bisa langsung melihat celah pada akting Ji Yun.
“Ekspresimu masih kurang kuat,” ujar Tuan Muda Yang.
Ji Yun menarik napas panjang, menahan suara, “Baik, akan saya perbaiki lagi.”
Belum sempat Ji Yun memperbaiki mood, Tuan Muda Yang kembali berkata, “Menurutku Yang Guo harus terlihat lebih misterius dan menggoda.”
“Misterius dan menggoda?” Ji Yun kebingungan. Ini Yang Guo, bukan Gongsun Zhi, dari mana datangnya sisi itu?
Tuan Muda Yang belum puas menjelaskan, ia melompat maju dan dengan kemampuan aktingnya yang pas-pasan, mendemonstrasikan ekspresi yang ia maksud.
Sudut bibir ditarik, mata dinaikkan, ekspresi canggung dipadukan dengan tatapan penuh perasaan.
Baru melihat sekejap, Ji Yun hampir muntah. Baru kali ini ia melihat seseorang bisa menampilkan begitu banyak ekspresi berbeda secara bersamaan di wajahnya.
Bukan hanya dirinya, seluruh kru yang menyaksikan akting canggung itu menunjukkan ekspresi aneh di wajah masing-masing.
Bukan misterius dan menggoda, ini benar-benar menjijikkan.
Ia menoleh ke Tuan Muda Yang, lalu ke dirinya sendiri, dan teringat pada Huang Da An.
Barulah ia sadar!
Pantas saja setelah drama ini Huang Da An mulai berakting menjijikkan, ternyata biang keroknya di sini!
Dulu ia sempat heran, mengapa Yu Min yang begitu hebat bisa membiarkan Huang Da An memerankan Yang Guo dengan begitu menjijikkan. Sekarang ia tahu alasannya.
Bukan hanya pengarah lakon yang tidak bisa diandalkan, kebetulan pula dibagi menjadi dua kelompok. Ketika Yu Min kembali setelah menyelesaikan syuting di kelompok lain, karakter Yang Guo sudah terbentuk. Mengubahnya pun bukan perkara sehari dua hari, akhirnya ia hanya bisa menelan kepahitan sendiri.
Huang Da An memang cocok di bidang ini, tahu cara menyesuaikan diri dan bersikap bijak. Tapi Ji Yun tak mau menuruti kemauan mereka.
“Aku rasa pemahaman kita tentang karakter Yang Guo berbeda.”
Mendengar bantahan tegas dari Ji Yun, wajah Tuan Muda Yang sedikit berubah.
Wajah yang sejak tadi tersenyum, kini seketika kelam seperti langit sebelum hujan.
Ia berusaha tetap tenang, mengucap tiap kata dengan tekanan, “Aku rasa pemahaman kita tentang profesi aktor juga berbeda.”
Eh?!
Kali ini balasan Tuan Muda Yang cukup berkelas!