Bab Dua: Naga Hitam Melingkar di Kota Xianyang
Rombongan itu naik ke atas kereta, dengan Zichu, Zhao Ji, dan Ying Zheng duduk dalam satu kereta. Setelah semuanya berada di dalam, barulah Zichu punya kesempatan untuk benar-benar memperhatikan Zhao Ji. Enam tahun telah berlalu, Zhao Ji kini sudah kehilangan kepolosan gadis remaja, kecantikannya justru kian menawan melebihi masa lalu. Setelah tangisan tadi, matanya masih basah oleh air mata, wajahnya serupa bunga teratai putih yang dihiasi embun, begitu memikat hati.
Zichu memandangnya dengan perasaan bersalah sekaligus penuh cinta. Jika bukan karena Ying Zheng duduk di samping, sudah pasti ia akan kehilangan kendali. Namun begitu, ia tetap merangkul Zhao Ji erat-erat di pelukannya. Seperti kata pepatah, perpisahan singkat lebih manis dari pengantin baru, apalagi ini perpisahan enam tahun lamanya. Bertemu kembali dengan orang tercinta, segala kerinduan membara di dada, sulit dipahami oleh orang kebanyakan!
Sepanjang perjalanan, keluarga itu berbincang tanpa henti, mendengarkan Zhao Ji bercerita tentang kehidupannya di Negeri Zhao. Termasuk juga kisah detil tentang upaya pembunuhan yang dialami Ying Zheng. Tentu saja Zhao Ji menambahkan sedikit sentuhan dramatis dalam ceritanya. Namun, hasilnya luar biasa, membuat Zichu semakin merasa bersalah.
Zichu memang selalu dikenal sebagai pribadi yang tahu berterima kasih, setia pada perasaan dan hubungan. Apa pun alasannya, kejadian di masa lalu tetap saja ia yang bersalah, meninggalkan istri dan anak, melarikan diri seorang diri, membiarkan mereka tertinggal di negeri musuh. Selama bertahun-tahun, Zhao Ji tak pernah menulis sepucuk surat pun yang berisi keluhan atau kemarahan, bahkan saat mereka bertemu kembali kini. Hal itu membuat Zichu makin merasa bersalah, sehingga ia memeluk Zhao Ji semakin erat.
Rombongan perlahan mendekati Kota Xianyang, dan lambat laun tampak seekor naga hitam raksasa yang melingkar di atas tanah—itulah Kota Xianyang. Kini, Xianyang menjadi salah satu kota terbesar di seluruh negeri. Sejak berdirinya, kota ini tak pernah tertaklukkan. Bahkan tanpa tembok kota, Xianyang tetap berdiri kokoh.
Setiba di Xianyang, Zichu dan rombongannya berpisah dengan Lü Buwei beserta para pengawal. Zichu dan keluarganya melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Istana Xianyang. Ying Zheng memandang istana yang kian mendekat dengan hati bergetar hebat, penuh gairah yang membuncah.
Semakin dekat, istana itu tak lagi tampak seperti istana pada umumnya, melainkan seperti gunung besar yang menjulang di tanah barat. Benar-benar seperti naga dan harimau yang mengincar dunia, siap menelannya bulat-bulat. Kini, Istana Xianyang adalah kompleks bangunan istana paling megah dan luas di seluruh negeri. Meskipun tak sebesar setelah penyatuan seluruh negeri nantinya, kini saja sudah sulit dibayangkan betapa luasnya.
Kelak setelah Ying Zheng menyatukan negeri, ia akan memperluas istana ini dengan gila-gilaan. Namun untuk hidup ini, biarlah segalanya berjalan perlahan.
Di dalam Istana Xianyang, selain deretan istana yang tertata rapi, terdapat taman, danau, berbagai paviliun serta menara. Istana ini tak hanya menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan, melainkan juga pusat pemerintahan, tempat Raja Qin mengatur negara, menggelar jamuan kenegaraan, serta dipenuhi pengawal dan lembaga-lembaga penting.
Istana Xianyang bukanlah sekadar istana, melainkan sebuah kota di dalam kota. Bahkan istana-istana dari berbagai dinasti kekaisaran di masa mendatang pun tak ada yang mampu menandingi separuh kemegahan Istana Xianyang. Istana ini mungkin bukan yang paling elegan, bukan pula yang paling mewah, tetapi sudah pasti yang paling gagah dan megah.
Masyarakat Qin menyukai warna hitam, sehingga seluruh istana didominasi warna gelap, menambah kesan gagah, berwibawa, dan tak tersentuh. Berdiri di tepi Sungai Wei, menghadap ke negeri-negeri Shandong, perlahan menaklukkan seluruh dunia.
Bahkan Ying Zheng pun belum pernah melihat istana sekokoh ini. Istana kerajaan Negeri Zhao yang dulu ia kenal, yang penuh kemewahan, jika dibandingkan dengan Istana Xianyang, bagaikan anak kecil. Begitu tiba di depan istana ini, siapa pun akan merasa terhormat dan segan. Para penjaga di kedua sisi begitu gagah dan tinggi, penuh wibawa, dengan aura membunuh yang tajam.
Setiap mata penjaga menyorot tajam ke setiap orang yang masuk ke istana, hingga Ying Zheng pun merasakan ketegangan yang sudah lama ia lupakan. Tak heran kelak saat Jing Ke mencoba membunuh Raja Qin, Qin Wuyang langsung ketakutan. Padahal suasana sekarang belum semegah di masa depan, namun sudah cukup mengguncang hati.
Hanya di tempat seperti inilah wibawa Raja Qin benar-benar terpancar, menakutkan seluruh dunia. Ying Zheng kini memasang wajah serius, namun gejolak di hatinya tak tampak dari luar. Dalam hati, ombak semangat menggelora—apa artinya menjadi laki-laki sejati? Laki-laki sejati harus menguasai istana seperti ini, menegakkan kekuasaan, menaklukkan dunia!
Kelak, ia akan menjadi penguasa di sini. Ia harus membuat istana ini lebih megah dan lebih gemilang. Ia harus membangun kekaisaran besar, memastikan dinastinya bertahan selamanya. Ia ingin, seribu tahun kemudian, istana ini tetap menjadi pusat kekuasaan!
Hingga kereta melewati para penjaga, kedua barisan penjaga berlutut dan berseru lantang, “Salam untuk Putra Mahkota!” Ying Zheng pun tersadar dari lamunannya. Sungguh luar biasa.
Zichu membawa Zhao Ji dan Ying Zheng kembali ke kediaman Putra Mahkota, di mana segala persiapan sudah selesai. Ia berkata kepada Zhao Ji dan Ying Zheng, “Istriku dan Zheng, kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh. Hari ini, beristirahatlah dulu di istana. Besok baru kita menghadap ayahanda raja.”
“Suamimu akan mengantar kalian melihat kediaman kita dulu.”
Saat mereka tengah berbincang, terdengar suara lembut nan merdu,
“Suamiku, inikah kakak yang selama ini kau ceritakan?”
Zhao Ji menoleh ke arah suara, tampak seorang wanita cantik membawa seorang bocah lelaki berjalan mendekat, membungkuk memberi hormat. Ying Zheng diam-diam mengamati mereka.
Wanita itu tampak berusia sekitar dua puluh tahun, wajahnya elok, lembut, dan tenang. Parasnya sangat cantik, dengan aura lembut nan anggun. Namun, jika dibandingkan dengan Zhao Ji, pesonanya memang masih kalah beberapa tingkat. Ia mengenakan rok panjang bersilang warna merah aprikot bersulam benang emas, riasan wajahnya sederhana namun menawan. Perhiasannya pun amat sederhana, hanya ada sebuah tusuk konde emas berbentuk bunga dan ranting batu giok hijau.
Tubuhnya ramping dan anggun, lekuk tubuhnya indah. Yang paling menarik perhatian adalah pinggangnya yang begitu ramping, seolah hanya cukup untuk satu genggaman tangan. Laksana pegunungan yang menjulang dan terjal, membuat orang khawatir pinggang itu akan patah bila sedikit saja ditekan.
Bocah lelaki yang bersamanya, kira-kira berumur empat atau lima tahun, berwajah rupawan dan tampak penurut.
“Adik Mì Yu memberi salam kepada Kakak.”
Wanita itu melangkah mendekat ke hadapan Zhao Ji, membungkuk dengan sikap sangat hormat. Diam-diam ia juga memperhatikan Zhao Ji. Meski sama-sama perempuan dan sangat percaya diri dengan kecantikannya sendiri, ia tak dapat menyangkal bahwa dari segi paras, Zhao Ji memang lebih unggul. Sungguh kecantikan luar biasa, yang bisa membuat negeri runtuh.
Tak heran suaminya selalu merindukan Zhao Ji setiap hari.
Zhao Ji tentu saja tahu siapa wanita itu, namun ia tetap berpura-pura tidak tahu dan memandang Zichu. Sambil tersenyum ia bertanya, “Suamiku, siapakah adik ini?”
Zichu sedikit canggung. Hari ini ia sengaja tak mengajak Mì Yu dan anaknya saat menjemput Zhao Ji dan putranya, agar suasana tidak menjadi canggung. Meski sulit untuk benar-benar menyembunyikan perkara ini, tetap saja ia tak ingin saat baru bertemu kembali langsung memunculkan Mì Yu dan anaknya.
Awalnya, Mì Yu memang ingin ikut menjemput, tapi Zichu menolaknya. Niatnya adalah menata dulu segala sesuatu untuk Zhao Ji dan putranya, baru kemudian menjelaskan semuanya kepada Zhao Ji. Ia pun punya alasan tersendiri.
Tak disangka, setibanya di istana, Mì Yu justru menyambut mereka lebih dulu. Ia sudah menunggu di rumah, seperti menanti buruan di bawah pohon. Akhirnya, kedua wanita itu pun bertemu di istana.
Sejenak, Zichu merasa sedikit canggung dan kurang nyaman. Namun, ia hanya bisa tersenyum dan menjelaskan kepada Zhao Ji, “Istriku, ini adalah kerabat Permaisuri Huayang, sekarang menjadi istri muda.”
Lalu ia menoleh kepada bocah lelaki itu, “Cheng Jiao, cepat ke sini, beri salam kepada ibumu dan kakakmu.”