Bab 7: Tekad Mulia Menghadapi Kematian

Di Masa Qin: Pedang Bertanya pada Bulan Purnama Kini perintah terasa dingin dan sunyi. 2505kata 2026-03-04 17:41:59

Di sebuah gua yang tersembunyi di tengah Pegunungan Taihang, seekor beruang tampak tak bergerak saat sedang berhibernasi. Namun, bukan karena tertidur musim dingin, melainkan luka menganga di bawah lehernya yang membuatnya tak berdaya.

Di sampingnya, api unggun berkobar, menambah kehangatan dalam gua yang dingin. Orang yang menyalakan api itu adalah Yang Ming. Beruang yang menjadi 'penguasa' di tempat ini sudah diketahui keberadaannya oleh Yang Ming sejak awal tahun. Kala itu, ia sengaja tidak memburunya karena merasa beruang itu masih bisa tumbuh besar. Namun kini, dengan niat untuk bertahan di gunung suci dalam waktu lama, ia sudah tak peduli lagi dengan pertimbangan lamanya.

Di atas api, dua potong daging beruang sedang dipanggang, lemaknya menetes ke bara. Untung saat ini baru bulan November, belum terlalu dalam musim dingin, sehingga lemak yang dikumpulkan beruang selama setahun belum sepenuhnya terkuras oleh hibernasi. Bila musim semi tiba, daging beruang itu pasti akan kering dan keras.

Di sisi Yang Ming, tampak sosok kecil memeluk lututnya, meringkuk di dekat api. Wajahnya yang sedikit kotor tetap tidak mampu menutupi kulitnya yang putih bersih. Rambutnya panjang berwarna perak, membuat gadis kecil itu sudah menampakkan pesona tersendiri meski usianya masih belia.

“Kau ini benar-benar tidak menyusahkan. Kukira aku harus menghabiskan waktu lama menenangkanmu,” kata Yang Ming sambil mengambil sepotong daging beruang yang lebih kecil dari atas api dan menyerahkannya pada gadis bernama Putri Salju.

“Aku tahu semua,” jawab Putri Salju seraya menerima daging itu, nada suaranya polos namun penuh kewaspadaan dan ketakutan.

“Tahu apa?” tanya Yang Ming penasaran.

Ia memang pernah mendengar tentang penari legendaris yang terkenal di wilayah Yan dan Zhao, namun ia sama sekali tidak akrab dengan gadis bernama Putri Salju ini.

Ia hanya tahu, gadis itu baru berusia lima atau enam tahun, wajahnya masih ada sisa bayi, sepasang matanya polos dan penuh kejujuran. Namun kini, ia harus menghadapi kejaran maut dari ibu kandungnya sendiri.

“Aku tahu yang membunuh nenek, membakar rumah, dan kini memburuku adalah ibu. Aku tahu kakek kepala pelayan menitipkanku padamu. Aku juga tahu kau adalah kakak di rumah yang pernah berburu harimau,” suara Putri Salju bening dan jernih, meski masih terdengar kekanak-kanakan.

Kelak ia akan terkenal karena tariannya, namun kini, suaranya saja sudah cukup memikat.

“Jadi kau tahu semua. Itu memudahkan urusanku. Makanlah, kita masih harus bersembunyi di gua ini beberapa waktu, lalu akan aku antar kau ke wilayah Gerbang Angsa,” ujar Yang Ming.

“Demi tiga ribu keping emas itu?” tanya Putri Salju sambil menggigit daging dengan deretan giginya yang mungil.

“Tentu saja. Tiga ribu keping emas adalah harta yang takkan bisa didapat orang biasa seumur hidupnya,” balas Yang Ming.

“Nanti di Gerbang Angsa, aku akan membayarmu tiga ribu keping emas itu,” Putri Salju berkata dengan sungguh-sungguh.

Mendengar ucapan Putri Salju yang begitu serius, Yang Ming tak dapat menahan senyumnya. Tadi ia sempat mengira gadis di depannya adalah seorang anak ajaib seperti dalam legenda, tapi ucapan barusan membuatnya yakin, Putri Salju tetaplah seorang bocah lima enam tahun.

Di balik wajah kecil Putri Salju yang tenang dan dingin, tersimpan kegugupan yang tak terungkapkan. Penekanan pada "tiga ribu keping emas" justru membongkar kegugupannya, kalau tidak, ia tak akan sengaja mengucapkan kalimat itu.

“Baiklah,” jawab Yang Ming santai, lalu tak berkata apa-apa lagi.

Di ibu kota Zhao.

“Putri Salju kabur bersama kepala pelayan tua?” Seorang perempuan berbaju merah mendengarkan laporan Guo Kai, wajahnya tampak tak senang dan sedikit kesal.

Namun, menghadapi Guo Kai yang kini adalah perdana menteri Zhao, ia sadar tak bisa menyinggungnya. Untuk bisa bertahan di istana, bahkan naik pangkat, ia masih butuh dukungan penuh dari Guo Kai. Dalam hubungan mereka saat ini, ia berada di posisi lemah.

“Mereka sudah melarikan diri ke Pegunungan Taihang. Selain mereka berdua, ada satu pemuda juga,” jelas Guo Kai.

Ratusan pasukan elit memberangus satu rumah besar, namun tiga orang masih bisa kabur. Hal itu membuat Guo Kai meragukan kemampuan pasukannya.

“Ini merepotkan,” kata perempuan berbaju merah.

“Aku sudah menyewa beberapa kelompok pembunuh bayaran untuk masuk ke Pegunungan Taihang. Aku yakin mereka akan bisa menemukan mereka,” ujar Guo Kai.

“Mudah-mudahan saja. Siapa saja pembunuh yang kau sewa?” tanya perempuan berbaju merah dengan nada seolah tak sengaja.

“Ada Jaringan Qin, Malam Korea. Mereka kelompok pembunuh yang namanya melambung di Zhao beberapa tahun belakangan.”

“Hanya itu belum cukup. Harus dikeluarkan surat penangkapan pada seluruh penjaga di delapan jalur utama Taihang, khususnya di Benteng Fuko, agar mereka tidak bisa menyeberang ke Qin,” tambah perempuan berbaju merah.

Betapa ironis, seorang ibu tega berusaha membunuh anak kandungnya sendiri. Namun, itulah kenyataan pahit yang sedang terjadi. Sungguh, kebengisan seorang perempuan, apalagi pada keluarganya sendiri, kadang melampaui batas akal sehat.

Tak lama kemudian, surat perintah penangkapan yang dikeluarkan dari kantor perdana menteri menyebar ke seluruh wilayah barat Zhao.

Di Pegunungan Taihang, menghadapi dua kelompok pembunuh bayaran yang memburu jejak mereka, kepala pelayan tua terus menyusuri jalan setapak, memanfaatkan pengetahuannya tentang medan dan berulang kali berhasil mengelabui para pembunuh.

Setelah dua minggu pelarian, akhirnya ia tiba di Benteng Fuko. Kini, di sisinya, sudah ada seorang gadis kecil lain, rambutnya habis dicukur.

Kepala pelayan tua itu menatap si gadis kecil dengan rasa bersalah, lalu melangkah mantap menuju gerbang benteng.

“Kalian mau ke mana?” tanya seorang prajurit penjaga, menghadang langkah mereka dan menatap curiga.

“Mau ke Jinyang, hendak mengunjungi keluarga,” jawab kepala pelayan tua dengan sopan.

“Jinyang sekarang milik Qin.”

“Dulu itu wilayah Zhao, lalu direbut Qin. Aku berpisah dengan adik saat perang itu. Kini aku sudah tua renta, hanya punya cucu satu-satunya ini. Maka, sebelum ajal menjemput, ingin mengantarnya ke adikku, supaya bisa tumbuh dewasa,” jelasnya.

“Itu cucumu? Kenapa kepalanya dicukur habis?” tanya sang perwira.

“Sakit, jadi terpaksa dicukur,” jawab kepala pelayan tua dengan tenang.

“Jangan bohong! Itu hanya alasan menutupi ciri khas cucumu yang berbeda. Tangkap mereka! Kakek tua, surat penangkapanmu sudah sampai padaku sepuluh hari lalu. Berani benar kau, licik sekali, ingin menguasai harta tuan, bersekongkol dengan perampok, membakar rumah, dan menculik putri tuan!” Perwira itu membentak dengan pandangan penuh benci.

Guo Kai memang menyebarkan surat penangkapan ke seluruh Zhao, sekaligus menimpakan berbagai tuduhan keji. Maka, kepala pelayan tua yang setia itu pun dicap sebagai pengkhianat, penjahat gila yang hendak menghancurkan keluarga tuannya.

“Tak ada yang bisa lolos dari mataku. Sakit dan mencukur rambut, hanya alasan menutupi rambut cucumu yang berbeda dari kebanyakan orang,” ujar perwira itu lagi. Para prajurit pun mengepung mereka.

Di hadapan kilatan senjata tajam, kepala pelayan tua tampak panik dan putus asa.

“Jadi, kalian sudah tahu...” ia menarik napas panjang, seolah meratapi nasib yang sudah di ujung jalan, sedih menanti ajal.

Namun di balik helaan napas itu, tersimpan keputusasaan yang berubah jadi kegilaan. Kepala pelayan tua tiba-tiba mencabut belati dari balik bajunya dan menusukkan ke dada gadis kecil tadi.

Gadis malang itu, telah dijual orang tuanya, kini harus mati sia-sia sebagai korban pengganti. Dan sang kepala pelayan tua yang membunuhnya, entah harus disebut manusia macam apa.

Bersama terhunusnya puluhan tombak, tubuh tua itu pun tertembus, tiada ruang untuk melarikan diri. Jawaban dari pertanyaan ini pun takkan pernah ditemukan.