Bab 26: Nyonya Arwah, Gadis Ungu
Sebagai orang yang di masa depan akan mendirikan Kedai Anggrek Ungu dengan tangannya sendiri, dan juga terlibat dalam pendirian Pasir Mengalir, kemampuan manajemen Perempuan Ungu tak perlu diragukan lagi.
Dengan serangkaian langkah yang membuat Yang Ming terkesima, sebuah markas perampok dengan ratusan orang berhasil ia tata ulang dan integrasikan dalam waktu kurang dari satu hari. Perempuan Ungu membagi ratusan orang bekas anggota Sarang Angin Hitam menurut berbagai kriteria, lalu membentuk sepuluh divisi sebagai unit manajemen harian. Dari setiap divisi, ia memilih sembilan orang untuk membentuk pasukan tempur, dan mengatur agar pasukan tiap divisi dipimpin oleh orang dari divisi lain, guna mencegah terjadinya kolusi antar kelompok yang bisa membahayakan posisinya sebagai ‘Istri Kepala Besar’.
Selain itu, sisa perampok profesional di Sarang Angin Hitam juga ia bentuk menjadi satuan pengawas, menjadikan para penjahat kambuhan ini sebagai mata dan telinga di dalam markas.
Tiba-tiba terdengar ledakan keras. Perempuan Ungu yang sedang merapikan surat di ruang depan sontak melompat kaget. Debu turun bagai salju menimpa rambut dan bahunya.
"Lagi-lagi," gumam Perempuan Ungu dengan kesal sambil menepuk-nepuk debu di bahu dan kepalanya. Jelas sekali, ini bukan pengalaman pertama baginya.
"Sampai kapan mau begini?" Dengan amarah membara, Perempuan Ungu melangkah keluar kamar. Di halaman, sesosok bayangan bergerak secepat kilat, melesat lincah seperti angin. Berbagai teknik tendangan—tendangan depan, samping, belakang, bawah, kait, putar belakang, hingga dorong—dilancarkannya tanpa henti.
Gerakannya yang cepat menciptakan bayang-bayang semu, tubuhnya seolah berpendar di antara tiupan angin kencang, hingga terdengar suara angin membelah udara tiap kali kakinya bergerak.
"Teknik ketiga, Badai Topan!" Dengan teriakan ringan, sosok itu melompat ke udara. Kakinya menendang secepat kilat, menciptakan deretan bayangan tendangan yang menghantam tembok di kejauhan. Suara benturan keras terdengar berkali-kali, hingga tembok itu pun akhirnya roboh dengan gemuruh.
Saat itu, sosok tadi mendarat kembali ke tanah.
"Selamat, kau makin kuat saja," ucap Perempuan Ungu dengan nada datar, menatap pemandangan di depannya. Jelas ia sudah sering menyaksikan Yang Ming berlatih teknik kaki ini. Bukankah kini tembok di sekeliling halaman sudah tak ada lagi?
"Masih jauh. Aku baru bisa menguasai teknik dasarnya, belum benar-benar masuk tahap awal. Kalau sudah benar-benar menguasai, tembok-tembok itu bukan hanya roboh, tapi akan bolong-bolong di banyak tempat," jawab Yang Ming, menatap halaman yang kini terbuka lebar dengan nada menyesal.
Walau ia sudah menguasai empat jurus awal Kaki Dewa Angin, kemampuan itu baru sekadar permulaan. Tendangannya tampak kuat, tapi tenaga yang dihasilkan masih tersebar. Padahal inti dari teknik ini adalah kecepatan serangan.
Jadi, Yang Ming baru saja menapaki pintu gerbang pelatihan Kaki Dewa Angin. Masih sangat jauh jalan yang harus ia tempuh. Jika suatu hari ia bisa menendang hingga tercipta lubang sebesar telapak kaki di tembok tanpa merusak bagian lain, barulah ia bisa dikatakan mencapai keberhasilan kecil dalam teknik ini.
"Kau sadar, kan, semua tembok sudah kau robohkan?" Perempuan Ungu mengejek.
Ia bahkan mulai curiga, jika Yang Ming terus berlatih di sini, bukan mustahil seluruh bangunan akan rata dengan tanah. Dengan penghancur seperti ini, lebih baik ia menjaga jarak, sebab sehebat apa pun nilainya, tak akan tahan menghadapi ulah Yang Ming.
"Kau benar-benar menganggap tempat ini rumah, ya? Lagi pula, aku berlatih sekuat tenaga demi masa depan kita. Tanpa kekuatan, bagaimana kita bisa mendapat bagian lebih besar dalam rencana selanjutnya?" Yang Ming menjawab tanpa merasa bersalah.
"Baiklah, masuk akal juga. Semakin kuat kau, semakin menguntungkan bagi kita. Sekarang, semua orang di Sarang Angin Hitam benar-benar menganggapmu penjahat besar," Perempuan Ungu mengangkat bahu.
"Penjahat besar? Bukankah aku kepala besar mereka?" Yang Ming menatap Perempuan Ungu penuh arti. Yang di depannya bukan lagi pemilik Kedai Anggrek Ungu, melainkan istri Kepala Besar Sarang Angin Hitam.
"Kepala besar apanya?" Perempuan Ungu, yang sudah sangat memahami Yang Ming, langsung menangkap makna tersembunyi di balik ucapannya dan spontan menahan malu, pipinya bersemu.
"Kepala besar hantu? Julukan itu tidak buruk. Kalau begitu, kau adalah Nyonya Hantu?" Yang Ming menimpali.
"Berani sekali kau sekarang, ya? Berani menggoda kakakmu sendiri? Kau ingat, aku ini atasanmu," Perempuan Ungu berusaha menutupi kegugupannya.
Ia sendiri tak tahu, sejak kapan bocah polos yang dulu ia temui kini berubah menjadi begitu berani dan agresif. Dulu, setiap kali ia menggoda dengan kata-kata, Yang Ming kerap salah tingkah. Remaja polos itu kini telah tiada.
Kini, Perempuan Ungu justru sedikit merindukan Yang Ming yang dulu, bukan Yang Ming yang seolah sudah membalikkan keadaan.
Dalam kegugupannya, Yang Ming malah terlihat berpikir. Saat Perempuan Ungu mengira ucapannya didengarkan, Yang Ming malah berkata pelan, "Jadi, atasan sekaligus Nyonya Hantu, itu yang mau kau tekankan?"
"Kau..." Perempuan Ungu merasa dadanya sesak, menekan dada cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan berkata, "Aku benar-benar salah menilaimu. Ini rupanya dirimu yang sebenarnya. Pasti dulu aku tertipu."
"Sudahlah, berhenti bercanda. Ada kabar dari Gunung Liang dan Markas Naga?" Yang Ming mengalihkan pembicaraan.
Meski bercanda dengan wanita secantik Perempuan Ungu sangat menyenangkan, ia tahu betul tujuan utama mereka.
Segala yang ia lakukan selama ini, pada akhirnya hanyalah demi uang, demi satu peluang besar.
"Mereka sudah membalas. Dua hari lagi mereka akan tiba di sini," jawab Perempuan Ungu.
Mereka berdua mengambil risiko diserang ratusan orang untuk merebut Sarang Angin Hitam, tujuannya agar bisa punya modal bersekutu dengan Gunung Liang dan Markas Naga. Kini, kedua pihak itu sudah setuju beraliansi, usaha mereka sebelumnya tidak sia-sia.
Namun, meski setengah target telah tercapai, Perempuan Ungu tak tampak lega. Di antara alisnya justru terbersit kekhawatiran.
Aliansi tetaplah sesuatu yang penuh tantangan. Soal pembagian keuntungan, jangankan perkumpulan perampok dadakan, bahkan saudara kandung bisa saling bermusuhan jika berhadapan dengan harta melimpah.
Sedikit saja lengah, hal tak terduga bisa terjadi.
"Dua hari lagi," Yang Ming bergumam.
Sejenak, suasana di halaman yang porak-poranda itu menjadi sunyi.
"Tuan Kepala Besar, Nyonya Kepala Besar! Orang-orang dari Sarang Macan Putih datang menyerang!" Suara panik terdengar dari kejauhan.
Yang Ming dan Perempuan Ungu menoleh. Mereka melihat Kapten Pengawas, Zhang Qi, berlari terengah-engah melewati puing-puing tembok yang runtuh.
"Sarang Macan Putih? Kenapa mereka juga datang?" Yang Ming bertanya heran pada Perempuan Ungu. Perempuan Ungu pun menatap Yang Ming dengan wajah sama bingung.
Keduanya pun terdiam, tak tahu harus berkata apa.