Bab 47: Di Dalam dan Luar Kantor Penguasa Kabupaten

Di Masa Qin: Pedang Bertanya pada Bulan Purnama Kini perintah terasa dingin dan sunyi. 2347kata 2026-03-04 17:42:30

Di bagian belakang kediaman pejabat wilayah, Ibu Li menggenggam tangan Gadis Salju, menatapnya dari atas hingga bawah. Saat pembicaraan sampai pada nenek Gadis Salju, sahabat lamanya yang telah mengalami nasib tragis di masa lalu, hati Ibu Li pun diliputi kesedihan.

Bagi orang seusia Ibu Li, tidak banyak lagi teman lama yang masih hidup. Sebelumnya, saat mendengar musibah yang menimpa Desa Keluarga Zhao, ia sudah sangat berduka.

Kini, melihat Gadis Salju di hadapannya, di satu sisi merasa lega bahwa cucu sahabatnya selamat, namun di sisi lain, kenangan pilu kembali menyeruak, membuat matanya memerah.

Menghadapi kesedihan Ibu Li, kenangan mengerikan yang selama ini disembunyikan Gadis Salju pun kembali mengemuka. Dalam peristiwa yang menimpa Desa Keluarga Zhao, hampir tak ada yang mampu memahami perasaannya.

Neneknya tewas secara tragis, dirinya sendiri diburu hingga nyaris mati—itu saja sudah merupakan penderitaan yang luar biasa di dunia ini. Namun, yang paling menyakitkan, otak di balik semua ini ternyata adalah ibu kandungnya sendiri. Pengkhianatan dari darah daging menjadi luka yang nyaris tak terobati di hati Gadis Salju yang masih kecil.

Namun, selain kepada Yang Ming, Gadis Salju tak bisa menceritakan apa pun kepada siapa pun. Ia tak bisa mengatakan bahwa ibunya sendiri yang mengutus orang untuk membunuh neneknya; ia tak bisa mengaku bahwa ibunya yang mengejarnya. Justru karena tak bisa mengungkapkan, beban batin yang dipikulnya jadi semakin berat.

Di tengah kesedihan Ibu Li, rasa pilu yang terpendam dalam hati Gadis Salju pun kembali tersulut. Namun, kehangatan yang ditunjukkan Ibu Li membuat Gadis Salju sedikit melupakan kewaspadaannya, hingga akhirnya air mata pun menetes membasahi pipinya.

“Hidup itu sudah baik, yang penting kau masih hidup. Jalani hidupmu dengan baik, ya, hiduplah dengan baik,” ujar Ibu Li sambil memeluk Gadis Salju yang menangis tersedu-sedu, menghiburnya dengan lembut, melupakan sejenak kepedihan hatinya sendiri.

Semakin mencoba menghibur, justru Ibu Li semakin terhanyut dalam kesedihan. Maka ia pun mengganti topik, “Anak muda di ruang depan itu siapa bagimu? Apakah selama ini dia yang melindungimu?”

Mendengar Yang Ming disebut, Gadis Salju segera menghapus air matanya dan menjawab, “Dia kakakku.”

“Kakak? Kau masih punya kakak? Kenapa aku tak pernah dengar nenekmu menyebutnya?” tanya Ibu Li heran.

Ia mengira Yang Ming hanyalah pendekar pengawal dari dunia persilatan yang mengantar Gadis Salju. Bagaimana bisa tiba-tiba menjadi kakak kandungnya?

Memikirkan hal itu, sorot mata Ibu Li pun menjadi lebih berhati-hati.

Menghadapi keheranan Ibu Li, Gadis Salju pun menceritakan asal usul Yang Ming dan perjalanan mereka berdua.

“Anak muda yang baik,” gumam Ibu Li akhirnya.

Di saat satu tua satu muda di belakang rumah diliputi suasana duka, di ruang utama, Yang Ming mulai sadar bahwa dirinya mungkin sedang menghadapi masalah yang tak mudah diselesaikan.

Hubungan antara Li Mu dan Gadis Salju jauh melampaui bayangannya. Dalam situasi seperti ini, membawa pergi Gadis Salju dari sini hampir mustahil.

“Awalnya aku tak tahu soal kejadian di keluarga Zhao, tapi setengah bulan lalu, tiba-tiba muncul orang-orang mencurigakan di Keluarga Sima. Aku curiga ada sesuatu yang terjadi di sana, lalu segera mengutus orang ke Desa Zhao untuk mencari tahu. Setelah bolak-balik, lima hari lalu aku baru mendapat kabar tentang kemalangan yang menimpa keluarga Zhao,” jelas Li Mu kepada Yang Ming.

“Saat itu aku belum tahu Gadis Salju masih hidup. Tapi kemunculan orang-orang misterius di Keluarga Sima membuatku tetap berharap. Kupikir, mereka mungkin datang karena Gadis Salju. Sebab, jika memang Gadis Salju sudah tiada, mereka tak harus bersusah payah datang ke Yanmen. Itulah sebabnya aku mulai curiga pada Keluarga Sima.”

“Jenderal benar-benar jeli,” puji Yang Ming.

Li Mu tak terlalu menanggapi pujian itu, ia melanjutkan, “Hari ini, pengintai yang kutempatkan di sekitar Keluarga Sima melapor bahwa ada seorang pemuda dan seorang gadis datang ke sana. Saat itu juga, Guru Cang yang baru kembali tergesa-gesa mengatakan ia melihat Gadis Salju di rumah minum. Dua informasi itu saling menguatkan, aku pun sadar kalian mungkin dalam bahaya, maka aku segera memimpin pasukan ke Keluarga Sima.”

Kali ini, Yang Ming hanya mendengarkan dalam diam.

“Tapi syukurlah, adik kecil, kau ternyata memiliki kemampuan luar biasa. Tidak terjadi hal-hal yang aku khawatirkan,” ujar Li Mu.

“Aku justru harus berterima kasih pada Jenderal Li. Kalau bukan karena kau menangkap kedua pembunuh itu, masalahku ke depan pasti akan jauh lebih rumit,” ujar Yang Ming sopan.

Seperti kata pepatah, banyak sopan santun tidak akan membuat orang tersinggung. Yang Ming merasa perlu bersikap sopan pada Li Mu, apalagi ia masih asing dan kini berada di wilayah kekuasaan tuan rumah.

“Anak muda ini memang masih belia, tapi pikirannya banyak juga. Apa yang kau syukuri pada Li Mu? Para pembunuh itu sudah dibuat lari pontang-panting olehmu, Li Mu hanya kebetulan jadi burung pipit yang mendapat untung. Apa benar pantas kau ucapkan terima kasih?” sindir Guru Cang, orang ketiga di ruang utama, dengan tawa mencemooh.

Mendengar pikirannya dibongkar, wajah Yang Ming pun memerah. Ia merasa lelaki tua di depannya ini semakin menyebalkan saja.

“Guru Cang memang suka bercanda seperti itu, adik kecil tak perlu diambil hati, tak usah dipedulikan,” ujar Li Mu menenangkan. Melihat reaksi malu Yang Ming, Li Mu justru merasa anak muda ini meski banyak pertimbangan, namun tetap polos di hatinya. Karena itu, rasa suka Li Mu pada Yang Ming pun bertambah.

“Penjaga Wilayah Li, maksudmu apa? Apa yang kukatakan salah?” tanya Guru Cang menantang.

“Tentu benar, tentu benar, siapa yang berani meragukan ucapan Guru Cang?” Di hadapan sikap tajam Guru Cang, Li Mu hanya bisa tertawa pahit, “Lihatlah, adik kecil, tajamnya kata-kata Guru Cang tidak kalah tajam dari pedang mana pun di dunia. Bahkan aku pun harus mundur tiga langkah.”

Menanggapi itu, Yang Ming hanya bisa ikut tersenyum pahit. Ia sama sekali tak tahu siapa sebenarnya Guru Cang itu, jadi ia memilih meniru sikap Li Mu, menjaga jarak seaman mungkin.

“Penjaga Wilayah Li, kau ini malah menjelekkan namaku,” ucap Guru Cang tak mau kalah.

“Baiklah, aku salah. Di sini aku meminta maaf pada Guru,” jawab Li Mu sambil menggeleng dan tertawa. Jelas ia tak ingin berdebat lebih lanjut dengan Guru Cang. Mungkin karena pengalamannya sudah banyak, ia tahu kalau diteruskan, dirinyalah yang akan rugi.

“Anak muda, jangan dengarkan omongan Li Mu. Menurutku, kau ini sudah cukup baik. Walau licik sedikit, tapi hatimu tulus. Di usia semuda ini, kau bisa mengantarkan Gadis Salju sampai ke Yanmen, jiwa ksatriamu patut diacungi jempol,” puji Guru Cang, kali ini tanpa menyindir, bahkan menyanjung Yang Ming.

“Hampir lupa kuberitahu, adik kecil, Guru Cang ini selain pandai menempa pedang, juga merupakan anggota Mo Jia, aliran yang sangat menjunjung tinggi jiwa kesatria,” tambah Li Mu mengingatkan.

“Aku tak pantas disebut ksatria. Awalnya aku hanya mengejar tiga ribu keping emas, lalu selanjutnya hanya karena Gadis Salju saja,” sanggah Yang Ming.

“Beberapa hal itu dilihat dari perbuatan, bukan niat. Kalau semua berdasarkan niat, mungkin semua orang di dunia ini akan jadi baik. Tapi kenyataannya? Xun Kuang, filsuf tua itu, pernah bilang manusia pada dasarnya jahat,” ujar Guru Cang.

Saat Yang Ming telah menjadi tamu kehormatan di kediaman penjaga wilayah, di kantor pemerintahan wilayah tersebut, Nona Zi justru tertimpa masalah.

“Harus ku panggil kau Nona Zi, atau Nyai Hantu?” tanya Sima Shang, wakil jenderal Li Mu, sambil mengelus janggutnya dengan santai, tampak yakin sepenuhnya akan kemenangannya.

“Apa maksud kata-kata Tuan Sima ini?” alis Nona Zi berkerut, firasat buruk mulai muncul dalam hatinya.