Bab 8: Terkurung di Pegunungan Ini

Di Masa Qin: Pedang Bertanya pada Bulan Purnama Kini perintah terasa dingin dan sunyi. 2388kata 2026-03-04 17:42:00

Dalam masa kehidupan di dalam gua antara Yang Ming dan Gadis Salju Kecil, waktu berlalu dengan cepat. Ketika seekor beruang sudah dimakan lebih dari setengahnya, salju yang menumpuk di Pegunungan Taihang pun telah mencair hingga hampir tiga perempatnya.

Meski di dataran tinggi masih terdapat salju yang menutupi, jalan-jalan setapak yang biasa dilalui orang di antara pegunungan sudah bisa dilewati. Setelah memastikan arah, Yang Ming kembali melanjutkan perjalanan bersama Gadis Salju Kecil, melangkah lurus ke utara dengan tujuan menyeberang Gerbang Jingxing dan memasuki wilayah utara Zhao, hendak mengantar Gadis Salju Kecil ke Komandan Li Mu di Distrik Yanmen.

Adapun alasan mengapa Yang Ming tidak langsung melewati Gerbang Fukou ke Qin, itu karena ia terpaksa mengurungkan niat tersebut. Di wilayah Qin, pemeriksaan terhadap orang asing sangat ketat. Begitu memasuki Qin, bisa jadi sebelum sempat berbuat apa-apa, ia sudah ditangkap dan harus "menikmati" hidup di penjara mereka.

Saat melewati daerah dekat Gerbang Fukou, dari kejauhan Yang Ming melihat sebuah kepala manusia tergantung di atas gerbang kota. Wajahnya tidak jelas terlihat karena jarak yang terlalu jauh, namun rambutnya yang sudah beruban menjadi petunjuk kuat siapa pemilik kepala itu.

Menatap kepala yang darahnya telah membeku itu, Yang Ming terdiam sejenak, lalu membawa Gadis Salju Kecil langsung berbalik ke selatan.

Di perjalanan, mereka bertemu dengan dua pemburu, seorang tua dan seorang muda, yang baru pulang berburu. Dengan sedikit basa-basi, Yang Ming pun berbaur dengan mereka. Dalam percakapan santai, ia menyinggung tentang kepala manusia di Gerbang Fukou.

"Kalau membicarakan orang itu, benar-benar orang kejam. Bersekongkol dengan perampok dan berusaha mencelakakan tuannya. Benar-benar sudah kehilangan hati nurani," ujar pemburu tua itu, semangatnya membuncah saat membicarakan kasus besar yang baru saja terjadi di sekitar wilayah itu.

"Syukurlah langit masih adil, tidak akan membiarkan orang jahat lolos. Orang kejam itu akhirnya tetap tidak bisa lepas dari hukuman. Kini kepalanya tergantung di gerbang kota, tubuhnya dibuang ke hutan, menjadi santapan serigala, macan, dan harimau. Benar-benar lenyap tak bersisa."

"Itulah yang namanya balasan," ucap Yang Ming perlahan. Perasaannya saat itu sangat rumit. Bagaimana menilai sang kepala pelayan tua yang setia namun penuh kelicikan, baik namun juga bisa sangat dingin? Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Pemburu tua yang tadinya bersemangat bercerita tiba-tiba menghela napas panjang.

"Hanya saja, kasihan nona muda tuan rumah itu. Masih sangat belia, sudah mengalami kehancuran keluarga, lalu diculik oleh penjahat. Penjahat itu sebelum mati, bahkan tega membunuhnya. Sungguh malang, benar-benar menyedihkan." Pemburu tua itu menggelengkan kepala berulang kali, penuh iba terhadap ‘Gadis Salju Kecil’ yang lain.

Mendengar kisah pemburu tua itu, pikiran Yang Ming berkecamuk. Ia sangat sulit memahami perbuatan si kepala pelayan tua.

Apa sebenarnya tindakan itu? Demi Gadis Salju Kecil, ia rela mengorbankan nyawa, suatu sifat yang sangat luhur. Namun demi tujuannya, ia juga sanggup membunuh gadis tak bersalah dengan kejam. Apa nama dari kelakuan seperti itu?

Apa yang mendorong kepala pelayan tua melakukan semua itu? Apakah itu kesetiaan? Kepercayaan? Kewajiban? Atau mungkin jiwa ksatria? Ataukah sebenarnya bukan apa-apa?

Barulah saat ini Yang Ming menyadari, sejak awal ia bahkan tidak tahu nama lelaki tua itu. Ternyata masih banyak sekali hal tentang dunia ini yang belum ia pahami.

Baik Paman Biao yang rela berkorban demi keluarga, maupun kepala pelayan tua yang sangat licik menurutnya, semuanya sama saja. Ingatan yang ia miliki tidak mampu membuatnya benar-benar memahami orang-orang di dunia ini. Selama ia hanya menjadi penonton, ia tidak akan pernah bisa memahami mereka sepenuhnya.

Orang yang berada di luar cerita takkan pernah paham dengan mereka yang hidup di dalam cerita, kecuali ia sendiri menjadi bagian dari cerita itu.

"Kalau bicara soal nona muda yang malang itu, usianya mirip dengan adikmu. Katanya rupanya sangat cantik, sekali bertemu takkan bisa dilupakan. Justru karena itu, si penjahat kejam itu demi keselamatannya sendiri, mencukur habis rambut nona muda itu. Sama seperti adikmu..." Pemburu tua itu menoleh ke arah Gadis Salju Kecil yang digendong di punggung Yang Ming.

Tatapan matanya semakin lama semakin menajam pada Gadis Salju Kecil. Karena meski ia mengenakan topi bulu beruang, sepertinya memang tidak memiliki rambut.

Menyadari hal itu, pemburu tua itu langsung terkejut, tangannya pun refleks meraba gagang belati di pinggang. Namun, melihat senyum Yang Ming yang polos dan ramah, ia perlahan-lahan melepaskan genggamannya.

Saat itu, Gadis Salju Kecil mendengar kisah si pemburu tua. Ia tahu kakek pelayannya telah tiada, bahkan tahu pula bahwa kakeknya meninggal demi dirinya. Seketika perasaan sedih menyelimutinya, air mata menggenang di pelupuk mata, dan ia pun terisak pelan di bahu Yang Ming.

"Adikku masih kecil, ia hanya membayangkan dirinya menjadi nona muda yang malang itu," ucap Yang Ming santai ketika melihat tatapan pemburu tua yang sempat tegang namun akhirnya tenang. Wajahnya tetap tenang dan santai.

"Benar juga, di usia seperti ini memang mudah terbawa perasaan," ujar pemburu tua itu sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, merasa dirinya terlalu curiga. Mana mungkin ada kebetulan seperti itu.

Lagi pula, sikap Gadis Salju Kecil terhadap Yang Ming sangat akrab. Jika dibandingkan dengan korban penculikan, mereka lebih mirip kakak beradik kandung.

Di sebuah markas rahasia Jaring Besi di ibu kota Zhao.

"Tuan, ada yang tidak beres. Si tua itu mungkin sengaja melakukannya, dan anak perempuan itu sepertinya palsu," ujar seorang pembunuh yang sedang menganalisis situasi kepada pimpinan mereka.

"Kalau memang palsu, lalu kenapa? Sekarang urusan ini sudah bukan tanggung jawab kita. Bukankah orang-orang Bayangan Malam sudah mengambil alih kasus itu?" jawab pimpinan pembunuh itu.

Dalam operasi sebelumnya, Jaring Besi dan Bayangan Malam sama-sama menerima tugas ini. Namun kepala pelayan tua itu sangat licik, sehingga baik Jaring Besi maupun Bayangan Malam gagal menuntaskan misi.

Namun dibandingkan dengan Jaring Besi, Bayangan Malam jauh lebih tidak tahu malu. Setelah kepala pelayan tua tewas di tangan penjaga Gerbang Fukou, sementara Jaring Besi sudah mengakui kegagalan, orang Bayangan Malam malah lebih dulu melapor ke ibu kota Zhao. Mereka menyampaikan kepada Perdana Menteri Guo Kai, sang penyandang dana, bahwa berkat kejaran tanpa henti dari Bayangan Malam, kepala pelayan tua itu akhirnya lari ke Gerbang Fukou dan tewas di sana.

Dengan begitu, meski Bayangan Malam tidak membunuhnya dengan tangan sendiri, mereka tetap memperoleh setengah dari bayaran yang dijanjikan Guo Kai. Atas kelakuan Bayangan Malam yang "memalukan" dan tidak profesional itu, Jaring Besi sangat mencibir.

Kini ketika terungkap bahwa target yang sebenarnya masih hidup, Jaring Besi justru merasa puas.

"Kita tidak perlu memberi tahu mereka?" tanya pembunuh kedua.

"Tidak perlu. Kalau kita memberi tahu, itu sama saja membantu Bayangan Malam. Selama gadis itu masih hidup, itu adalah aib terbesar bagi Bayangan Malam. Kita tunggu sampai Guo Kai sendiri menemukan kebenarannya, baru ia akan sadar betapa rendahnya profesionalisme para pembunuh Bayangan Malam. Kalau kita bocorkan sekarang, mereka bisa saja berdalih itu cuma kesalahan kecil," ujar sang pimpinan.

"Kita harus biarkan Guo Kai tahu, orang-orang Han itu, selain soal uang, semuanya gagal. Pembunuh profesional sejati, tetap hanya Jaring Besi."