Bab 77: Yang Ming yang Sangat Tinggi
"Kau cukup beruntung, meski berada lama di sel maut, lukamu ternyata tidak mengalami pembusukan, sehingga pengobatannya jadi jauh lebih mudah," ujar Yang Ming setelah memeriksa luka Yingge setibanya mereka di kediamannya.
“Terima kasih,” jawab Yingge. Kini, setelah kembali menghirup udara segar, pikirannya pun terasa lebih jernih. Ia pun tetap tenang meski harus membuka bagian dada di hadapan Yang Ming.
Yingge sangat menyadari betapa buruk keadaannya sekarang. Ia tak peduli jika Yang Ming melihat tubuhnya, sebab saat ini dirinya begitu kotor dan berbau busuk sampai membuat orang lain ingin muntah. Dalam kondisi seperti ini, rasanya tak mungkin ada pria yang memikirkan hal lain selain ingin menjauh darinya.
“Aku tahu kau pasti sangat ingin mandi air hangat sekarang, tapi saat ini kau hanya bisa membayangkannya saja. Air sedang dipanaskan di atas api. Sebentar lagi, bersihkanlah tubuhmu sendiri, lalu balut luka itu dengan baik. Nyawamu sudah berhasil diselamatkan,” kata Yang Ming sambil melangkah keluar.
Memang, bau Yingge saat itu sangat menyengat. Bahkan, demi membuat kusir bersedia mengantarnya pulang, Yang Ming harus membayar lima kali lipat dari ongkos biasa.
“Terima kasih,” ucap Yingge lagi. Setelah kembali bebas, ia sendiri tak tahan dengan bau dan kotoran di tubuhnya. Bisa membersihkan diri adalah sesuatu yang sangat ia harapkan.
Tak lama, Yang Ming kembali membawa satu ember kayu, satu set pakaian bersih, satu botol porselen, dan perban.
Saat itu juga, pintu halaman terbuka. Sosok Zinu pun muncul di ambang pintu.
Kembali secepat ini? pikir Yang Ming heran. Ia yang pernah terlibat dalam proses penempaan Tombak Naga Angkasa, setidaknya paham seluk-beluk pekerjaan pandai besi. Meski Zinu hanya ingin memperkuat dan memodifikasi pedang rantai miliknya, seharusnya tidak akan selesai secepat itu.
"Baru kembali? Apa pedangnya sudah selesai diperbaiki?" tanya Yang Ming.
“Belum, Guru Cang bilang butuh waktu tiga hari. Jadi aku pulang dulu,” jawab Zinu dengan nada santai.
“Tiga hari? Berarti kali ini Guru Cang benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya. Selamat, sebentar lagi kau akan mendapatkan pedang pusaka yang sesungguhnya,” kata Yang Ming. Semakin lama waktu pengerjaan, tentu saja kualitasnya semakin baik.
“Itu semua berkat bantuanmu juga. Jadi, sudah terpikir cara bagaimana aku harus membalas jasamu?” Zinu berseloroh.
“Itu kabar baik. Harus kupikirkan matang-matang,” balas Yang Ming, antusias. Apapun bentuk balasan dari Zinu, pasti layak dinantikan.
“Ngomong-ngomong, jadi kau membawa si pembunuh itu pulang?” Zinu menyibak rambut panjangnya yang tertiup angin, bertanya santai namun tersirat kepedulian.
“Aku bawa pulang, tapi harus bayar seratus keping emas. Benar-benar mahal,” sahut Yang Ming, meski dalam hati justru tersenyum. Inilah tujuan utama Zinu, pikirnya.
Meski waktu perkenalan mereka baru tiga bulan, hampir setiap hari mereka selalu bersama. Tak sulit bagi Yang Ming memahami sifat Zinu; di balik sikap santainya, ia selalu menutupi niat aslinya.
Namun Yang Ming justru menyukai hal itu. Lagipula, pria mana yang tidak senang melihat seorang wanita seperti Zinu menunjukkan perhatian padanya, meski itu hanya sekadar kepura-puraan kecil?
“Seratus emas, itu bukan apa-apa,” gumam Zinu, seolah mempertimbangkan makna tersirat dari ucapan Yang Ming.
Tapi, seiring percakapan berjalan, Zinu mulai merasa sedikit gelisah. Apa jangan-jangan Yang Ming sudah menyadari maksudku? pikirnya, membuat pikirannya kacau.
“Bagaimana urusan kuda perang? Kurasa kita harus segera meninggalkan Gerbang Angsa,” tanya Yang Ming, sengaja mengalihkan pembicaraan. Walau kadang ia senang melihat Zinu tersipu malu, ia tak ingin terus-menerus mempermainkannya.
“Sudah selesai, ada seribu seratus ekor. Kau benar-benar punya pengaruh besar, Sima Shang bahkan memberikan seratus ekor tambahan. Semuanya kuda pilihan, yang paling jelek pun bisa dijual lima puluh keping emas,” jawab Zinu, merasa lega karena Yang Ming tak membahas rahasianya.
“Kalau begitu, kali ini kita benar-benar bisa untung besar,” Yang Ming tertawa.
Meski urusan di Gerbang Angsa sempat membuat keadaan jadi rumit, hasil yang didapat Yang Ming selama perjalanan ini sangat luar biasa. Ia berhasil memahami jurus Kaki Dewa Angin di Pegunungan Heng, sehingga kemampuannya meningkat pesat. Di hadapan dua pasukan lawan, ia berhasil menguasai teknik Pamungkas Langit Kesembilan—Awan Malapetaka. Dalam tiga bulan, kemampuannya naik ke tingkat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dulu, saat tinggal di kediaman Keluarga Gadis Salju, ia butuh bertahun-tahun hanya untuk menguasai lima jurus Pamungkas Langit, sampai-sampai harus berpikir keras untuk mengalahkan dua murid Sekte Baju Baja.
Sekarang, jika bertemu lagi dengan murid-murid itu, satu jurus saja sudah cukup untuk menghancurkan mereka, tak peduli seberapa keras mereka melatih tubuhnya dengan ilmu pertahanan Sekte Baju Baja.
Dari Guru Cang, ia juga memperoleh Tombak Naga Angkasa. Walau belum sempurna, senjata itu sudah cukup untuk membuatnya berjaya di medan perang.
Kini, dengan seribu seratus ekor kuda perang, jika berhasil menjualnya, kekayaannya akan berlipat ganda—cukup untuk hidup nyaman seumur hidup.
Namun, dalam tiga bulan ini, ia juga menemukan harta karun lain yang jauh lebih berharga: Zinu.
Tentu saja, semua itu harus dijalani perlahan.
“Benar juga. Tapi bagaimana caranya membawa uang sebanyak itu kembali ke Han? Lihat saja, rombongan saudagar Han yang lain semuanya tewas, bahkan kehilangan segalanya. Kalau aku membawa kekayaan sebanyak ini pulang, pasti akan muncul masalah besar kalau tak ada persiapan,” ucap Zinu ragu.
Uang memang sesuatu yang menggiurkan, tapi terlalu banyak juga bisa membawa bencana.
“Di saat seperti ini, kau butuh sosok pelindung yang kuat dan misterius,” kata Yang Ming.
Ia paham betul kekhawatiran Zinu. Para saudagar yang tewas di Pegunungan Heng bukan orang sembarangan. Jaringan hubungan mereka sangat luas dan rumit. Jika Zinu pulang membawa harta sebanyak itu, para pengusaha beserta orang-orang di balik mereka pasti tak akan tinggal diam.
“Pelindung yang kuat?” Zinu tampak ragu.
“Seperti ini maksudnya,” ujar Yang Ming. Dalam sekejap, ia sudah berada di belakang Zinu, mengandalkan kecepatan dan kelincahan jurus Jejak Awan Menyapu. Kini tubuh Yang Ming yang lebih tinggi dari tiga bulan lalu, berdiri tegak menutupi cahaya matahari di belakang Zinu, bayangannya jatuh di tanah di depan wanita itu.
Mendengar suara di belakangnya, tubuh Zinu spontan menegang. Begitu menoleh, ia baru menyadari betapa Yang Ming kini sudah menjulang tinggi di hadapannya.