Bab Lima, Awal Kisah Biji Merah
Shen Muqing bersandar santai di ranjang rumahnya sambil bertanya, “Hei, Rubah Tua, bagaimana hasil tugas kali ini?”
Ruan Muheng menyerahkan sebuah pil hitam dan berkata, “Telan ini.”
Shen Muqing menatap Ruan Muheng dengan waspada, “Apa itu? Jangan-jangan kau ingin menyingkirkan aku setelah pekerjaan selesai?”
“Itu obat mujarab. Kau manusia biasa. Bolak-balik melintasi ruang dan waktu tidak baik untuk tubuhmu, bisa mempercepat penuaan. Minum ini bisa menjaga awet muda.”
Shen Muqing melirik Ruan Muheng dengan tidak percaya, “Kalau kau bohong, aku bakal mengganggumu meski sudah jadi arwah.”
“Tenang saja, sebelum tugas selesai kau tidak akan mati.”
Menyinggung soal tugas, Shen Muqing teringat sesuatu dan buru-buru bertanya, “Boleh nggak aku sekali saja jadi tokoh utama? Aku ingin…”
Belum sempat Shen Muqing menyelesaikan kalimatnya, Ruan Muheng sudah mengeluarkan sebilah belati, “Syarat utama jadi tokoh utama adalah kau harus sudah mati dulu.”
Melihat belati yang berkilauan itu, Shen Muqing menggeleng takut.
Ruan Muheng menyimpan kembali belatinya, wajahnya serius, “Ayo, tugas berikutnya akan segera dimulai.”
Shen Muqing tampak sedikit penasaran akan seperti apa tugas kali ini, lagipula keinginan terbesarnya dulu adalah menjadi bintang film.
Ruan Muheng kali ini bersikap sangat lembut, ia lebih dulu menjelaskan situasi pada Shen Muqing.
Namun, semua itu tak bisa dirasakan Shen Muqing, sebab Ruan Muheng yang brengsek itu mengatakan padanya bahwa namanya kali ini adalah… Melati!
“Ruan Muheng, sebenarnya untuk apa sih kita melakukan semua tugas ini?”
Ruan Muheng hanya melirik Shen Muqing, menjawab dengan mengalihkan pembicaraan, “Karena tugasmu sebelumnya berjalan baik, aku akan membawamu melihat setengah kehidupan tragis tokoh utama perempuan kali ini.”
“Hah?” Belum sempat Shen Muqing bereaksi, Ruan Muheng sudah menariknya melintasi ruang dan waktu.
Namun untuk saat ini, Shen Muqing belum memiliki identitas, sama seperti Ruan Muheng, mereka hanyalah sosok tak kasat mata, hanya sekadar menyaksikan penderitaan sang tokoh utama.
Musim dingin yang menusuk tulang, angin menggigit, yang dingin bukan hanya tubuh manusia, tapi juga hati manusia.
Ruan Muheng menunjuk seorang wanita di atas tembok kota yang sebentar lagi akan menjadi batu penanti suaminya, “Itulah tokoh utama kali ini, Hong Yan.”
Shen Muqing menatap wanita di hadapannya, pipinya memerah karena dingin, mengenakan jubah merah panjang yang justru membuat kulitnya semakin tampak cerah.
Bulu matanya lentik dan tebal, hidungnya mancung, di bawahnya bibir mungil yang terus menghembuskan napas hangat.
“Permaisuri, bagaimana kalau kita kembali ke istana dulu?” Pelayan di samping wanita itu berkata dengan hormat, “Baginda raja sedang merayakan keberhasilan berburu bersama para pejabat, mungkin baru pulang malam nanti.”
Hong Yan tetap menatap ke kejauhan, tak menggubris nasihat itu.
Shen Muqing memandang Ruan Muheng dengan bingung, “Kenapa dia tidak kembali ke istana?”
Ruan Muheng menunjuk ke arah tidak jauh dari mereka, “Ini adalah tahun pertama Hong Yan menikah dengan Kaisar Xia, biasanya Kaisar Xia selalu mengajaknya berburu bersama. Tapi tahun ini karena ia sedang hamil, kaisar tidak membawanya. Ia jadi gelisah.”
Shen Muqing memandang perut Hong Yan yang sedikit membuncit, terpancar di wajahnya kebahagiaan bercampur kecemasan.
Akhirnya, pria yang ditunggu wanita itu pun tiba. Lelaki berwajah tampan dan dingin itu pun tampak memerah karena udara dingin, namun yang paling mencolok adalah wanita di sampingnya, berpenampilan seperti gadis dari negeri barat, gaya berpakaiannya hampir sama dengan Hong Yan.
“Baginda pulang agak larut malam ini,” sambut Hong Yan dengan hormat sambil membersihkan salju di kerah sang kaisar.
Namun, Kaisar Xia tak menjawab, malah menarik wanita di belakangnya, “Aku kasihan padanya, jadi kubawa pulang.” Lalu kepada wanita di belakangnya, ia berkata, “Inilah istriku, Permaisuri Kerajaan Xia.”
Wanita asing itu membungkuk sopan, “Hamba menghaturkan salam pada Yang Mulia Permaisuri.”
Hong Yan tersenyum tipis, “Baginda memang suka berbuat baik, jika ia hanyalah gadis malang yang terlantar, biar hamba yang mengatur pekerjaannya.”
Kaisar Xia menggeleng, “Tak perlu, aku akan mengangkatnya jadi Selir Die.”
Hong Yan seperti tak percaya, tubuhnya bergerak sedikit, “Baginda, apa maksudnya?”
Tersirat dari kata-katanya, Hong Yan ingin Kaisar Xia paham, karena pria di depannya ini pernah berjanji, seumur hidup hanya ia satu-satunya wanita di istana.
Kaisar Xia melepaskan jubah tebalnya, “Permaisuri, aku harap kau mengerti. Para pejabat tua sudah lama mendesakku menambah istri. Kalau kau tak sibuk, sering-seringlah bergaul dengan istri para jenderal, lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk politikku.”
Sampai di sini, Ruan Muheng menepuk Shen Muqing, “Jangan lihat terus, kau adalah istri jenderal itu, Melati.”
Shen Muqing mengepalkan tangan, “Kalau kau panggil aku Melati lagi, aku akan membuatmu mandul!”
“Sebanyak itu anak rubah, apa kau sanggup menghabisi semuanya?” Ruan Muheng menatapnya santai.
Shen Muqing lupa, pria di sampingnya bukan manusia, melainkan seekor rubah licik!
Waktu berlalu, daun-daun maple merah keunguan menutupi salju yang semula turun lebat.
Terdengar pula jeritan wanita, melihat perubahan musim, Shen Muqing tahu, anak Hong Yan akan lahir.
Ia mendekat penasaran ke arah Ruan Muheng, “Anaknya laki-laki atau perempuan?”
Ruan Muheng memandang dingin ke arah ruang bersalin, “Laki-laki atau perempuan, tak akan hidup lebih dari satu dupa, apa masih penting jenis kelaminnya?”
Shen Muqing menatap Ruan Muheng dengan mata terbelalak, “Lalu tunggu apa lagi! Cepat selamatkan!”
Ruan Muheng menggenggam tangan dingin Shen Muqing erat-erat, “Qing’er, sekuat apapun keinginan hidup permaisuri ini, seberapa pun kasihan kau padanya, kau tidak boleh menolongnya. Tugasmu adalah membuat sang kaisar jatuh cinta lagi padanya, hingga meneteskan setetes air mata penyesalan—itulah tugasmu.”
Shen Muqing mencoba melepaskan diri dari genggaman Ruan Muheng, namun cengkeramannya sangat kuat, ia tak bisa lepas. Saking fokusnya berusaha melepaskan diri, ia tak sadar perubahan sapaan dan nada suara Ruan Muheng.
Kaisar Xia masuk, membawa serta wanita asing yang menawan itu. Mereka masuk, Ruan Muheng pun menarik Shen Muqing ikut masuk.
Ruan Muheng menggenggam tangan kanan Shen Muqing, tangan kirinya menutup mata Shen Muqing, “Begitu sudah mulai melihat masa lalu ini, kau tak akan bisa berhenti. Pejamkan mata, jangan dengarkan, jangan pikirkan.”
Shen Muqing menuruti, namun tetap saja ia bisa mendengar percakapan di dalam.
Wanita menawan itu berkata dengan manja, “Baginda, peramal itu benar juga, pangeran lahir dengan tubuh berlumuran darah!”
Hong Yan dengan susah payah duduk dan menggendong bayi ke pelukannya, “Baginda, setiap bayi baru lahir pasti ada darah yang menempel di tubuhnya, Baginda datang terlalu cepat.”
Kaisar Xia tidak bodoh, ia tahu hal-hal seperti ini. Namun wanita menawan itu kembali berkata, “Bidan, pernahkah kau melihat bayi baru lahir dengan begitu banyak darah?”
Bidan yang berlutut di lantai gemetar, “Yang Mulia Selir Die benar, Baginda, pangeran kecil ini memang terlahir membawa kutukan!”
Melihat Kaisar Xia masih ragu, wanita itu menjerit sambil memegangi perutnya, “Baginda, anakku, perutku sakit!”
Kaisar Xia akhirnya panik, “Bukankah sudah kubilang tak usah melihat wanita itu? Kau malah kasihan padanya dan datang. Pengawal, panggil tabib istana!”
Hong Yan hanya bisa tersenyum pahit, selama sepuluh bulan mengandung, inilah pertama kalinya Kaisar Xia menjenguknya, itu pun karena wanita lain.
Ia hampir mati di ranjang, semua diurus bidan, sementara wanita itu hanya pura-pura sakit perut, langsung dipanggilkan tabib. Padahal Hong Yan tahu, wanita itu tidak hamil.
Hong Yan tidak bodoh, sejak hari bersalju itu ia sudah meracuni wanita itu, seumur hidupnya tak akan bisa hamil. Maka segala sandiwara kali ini, hanya ada satu tujuan—anaknya.
Secara naluriah, Hong Yan memeluk bayinya lebih erat. Seperti yang dikatakan Ruan Muheng, baru setengah dupa berlalu, Kaisar Xia dengan marah merebut bayi itu dari pelukannya.
“Tabib, lihatlah, apakah anak durhaka ini yang menyebabkan bayi di perut Selir Die gugur?”
Tabib tua itu pura-pura menghitung jari, “Baginda, hanya dengan mengorbankan pangeran kecil ini, barulah keturunan di istana akan terus berlanjut!”