Bab Delapan Puluh Delapan, Menghabiskan Seluruh Hidup Hanya Untuk Satu Orang
Setelah semua orang pergi, Barulah Selir Keenam bisa mendekat ke Xu Lanxi yang terikat lemas di tiang dan memeluknya dengan pilu sambil menangis, “Ini semua salah ibu, andai saja waktu itu ibu tidak nekat melakukan hal itu, kau takkan celaka seperti ini.”
Xu Lanxi tersenyum lemah, “Jangan salahkan ibu. Semua ini adalah pilihan Lanxi sendiri. Ibu, aku ingin pindah ke paviliun lain. Rasanya tempat ini sudah tidak cocok lagi untukku.”
Selir Keenam menatap Xu Lanxi dengan kaget, “Tapi, bukankah sejak kau berusia enam tahun kau sudah tinggal di sini? Sudah belasan tahun lamanya.”
“Justru karena sudah terlalu lama di sini, aku jadi tidak suka lagi. Aku ingin tinggal di paviliun ibu saja, kalau tidak, malam-malam aku selalu bermimpi buruk.”
Selir Keenam langsung menyetujui permintaan itu. Ia mengira semua kejadian tadi membuat Xu Lanxi trauma, dan membiarkannya tidur bersama beberapa hari pun tidak masalah.
“Biar ibu lepaskan talimu.”
“Baik.” Xu Lanxi mengangguk lemah, tak menyangka detik berikutnya Selir Keenam justru roboh di hadapannya, dan yang muncul di depan matanya adalah Su Yujin.
Melihat luka-luka di tubuh Xu Lanxi, Su Yujin menahan perih di hatinya, “Padahal aku sudah memerintahkan agar mereka tidak berbuat sesuatu, mengapa…”
Xu Lanxi tak mempedulikan ucapan Su Yujin. Matanya hanya menatap Selir Keenam yang tergeletak di lantai, lalu ia bertanya tajam, “Apa yang telah kau lakukan pada ibuku?”
“Ibumu?” Su Yujin segera berlutut dan mengangkat wanita yang tak sadarkan diri itu, “Aku hanya tak ingin ada orang lain melihatku masuk ke paviliunmu. Dia hanya kubuat pingsan, tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa?” Xu Lanxi menatap Su Yujin dengan curiga.
Su Yujin segera membantu melepaskan tali Xu Lanxi, “Aku akan membantumu membalaskan semua ini.”
“Bagaimana caramu membalasnya, Tuan Muda? Luka-luka di tubuhku, kau yakin tak ada sangkut pautnya denganmu?”
Su Yujin menatap Xu Lanxi dengan penuh kesungguhan, “Apa benar Xu Ranzhu yang membuatmu seperti ini?”
Xu Lanxi menahan tawa getir, “Ranzhu? Kalau saja tadi bukan Ranzhu yang menahanku, mungkin aku sudah tak bernyawa saat kau datang.”
Namun Su Yujin menatap Xu Lanxi seakan ia naif, “Saat aku hendak pergi, aku bertemu Xu Ranzhu yang membawa Nyonyah Yu Shi ke sini. Kau bilang dia menahanmu? Kenapa tidak kau bilang saja dia berlagak baik di depan Nyonyah Yu Shi? Tadi aku sudah perintahkan orang menyelidiki, memang Xu Ranzhu sendiri yang mengajak Nyonyah Yu Shi ke sini untuk mengantarkan pakaian padamu. Kenapa dia memilih waktu seperti ini? Kau pasti tahu alasannya.”
Tiba-tiba rasa sakit di tubuh Xu Lanxi terasa semakin perih, ia benar-benar tak menyangka orang yang baru saja ia percaya, Xu Ranzhu, ternyata dalang di balik semua penderitaannya.
Melihat ekspresi penuh derita di wajah Xu Lanxi, Su Yujin berkata, “Menikahlah denganku, aku memang datang ke sini untuk memilih calon putri kedelapan, dan kini aku sudah memilihmu. Di kediamanku, tidak ada perbedaan antara anak sah dan selir. Pria di keluargaku hanya menikahi satu perempuan seumur hidupnya.”
Melihat kesungguhan Su Yujin, Xu Lanxi merasa seolah mereka sudah lama saling mengenal. Padahal memang sudah cukup lama, setiap kali pertemuan antara putri sah dan pangeran, selalu ia yang mewakili Xu Ranzhu. Kini, ia sudah menggantikan Xu Ranzhu, merebut segalanya.
Namun, semua kedudukan dan kehormatan yang semula ia rebut kini kembali ke tangan Xu Ranzhu. Ia takut, Su Yujin pun kelak akan jatuh ke tangan Xu Ranzhu seperti halnya semua yang tak mampu ia pertahankan.
Melihat luka-luka di tubuh Xu Lanxi, Su Yujin berkata dingin ke arah bayangan di sudut ruangan, “Ying!”
Begitu perintah diucapkan, sesosok bayangan langsung melompat ke sisi Su Yujin dan Xu Lanxi. “Tuan.”
Tanpa menoleh ke bayangan itu, Su Yujin berkata, “Antarkan Nyonya ke kamar, bawakan juga tonik dari kediaman, dan bawa kepala pelayan utama ke sini untuk membantu Nyonya.”
“Baik.” Tanpa berbicara lagi, bayangan itu segera mengangkat Selir Keenam yang tergeletak dan membawanya ke kamar Xu Lanxi.
Xu Lanxi ingin mencegah, namun gerakan bayangan itu secepat angin. Belum sempat ia bicara, bayangan itu sudah menghilang.
Xu Lanxi menolak pelukan Su Yujin dan berusaha berdiri sendiri untuk menyusul ke kamar, namun Su Yujin segera menariknya ke dalam pelukan, “Kenapa menolak aku seperti ini?”
“Tuan, mohon jaga jarak. Aku hanya ingin melihat ibuku.”
“Xu Lanxi, jangan pedulikan berapa lama kita saling kenal. Jika aku harus menikah dengan seorang putri dari keluarga Xu, orang itu hanyalah kau.”
Untuk pertama kalinya Xu Lanxi menatap langsung pria bermata tajam itu, tak percaya, “Hanya karena pertemuan pertama Tuan denganku, Tuan ingin memilihku? Itu tidak adil untuk Ranzhu. Belasan tahun Tuan bertunangan dengannya, jika sekarang tiba-tiba batal, bagi Tuan hanya mengganti tunangan, bagi Ranzhu berarti kehilangan kesempatan memilih calon suami.”
“Aku tak pernah berniat membatalkan pertunangan. Dulu titah kaisar hanya memintaku menikahi putri sah keluarga Xu. Putri sah keluarga Xu bukan hanya Xu Ranzhu. Kau yang menjadi putri sah selama belasan tahun, seluruh negeri tahu.”
Xu Lanxi tersenyum sinis, “Menjadikan aku putri sah hanyalah lelucon. Menikahiku pun hanya sekadar mengalah, tak perlu mengucapkan kata-kata indah yang tak nyata.”
“Xu Lanxi! Aku ulangi dengan sungguh-sungguh, jika harus menikah, orang itu hanya kau.”
Xu Lanxi seperti tidak mendengar atau mungkin sudah lelah, ia tertidur di pelukan Su Yujin.
Melihat gadis yang terlelap di pelukannya, Su Yujin menggeleng pelan, “Andai waktu muda dulu aku tak pernah bertemu denganmu dan jatuh hati, aku pun takkan mencari alasan melihat putri sah keluarga Xu hanya demi bisa diam-diam menemuimu. Kau memang polos seperti dulu, mana mungkin semuanya kebetulan—jatuh tepat di depanmu, lalu bertemu di kandang babi. Semua sudah kuatur dengan rapi.”
“Tuan, Nyonya sudah di kamar.”
Su Yujin menatap gadis di pelukannya, mengangguk, “Kembali ke kediaman, ambilkan beberapa tonik. Suruh Feng ke paviliun Ranzhu, gores wajah Xu Ranzhu. Perempuan yang wajahnya rusak, seumur hidup takkan bisa keluar dari rumah orang tuanya.”
“Baik.”
Paviliun Ranzhu
Shen Muqing dengan susah payah baru bisa mengusir Nyonyah Yu Shi dan Nyonya Tua yang begitu mengkhawatirkannya. Ia memandang obat di sampingnya dan menatap tangannya yang dibalut seperti kaki babi, lalu menghela napas panjang, “Orang yang tak seharusnya diperhatikan malah terlalu dipedulikan, orang yang seharusnya mendapat perhatian kini mungkin terbaring menyedihkan di ranjang, ah.”
“Nona, Anda bicara apa? Ini bubur teratai dan jamur putih kiriman Nyonya Tua…” Belum sempat Qiao’er menyelesaikan kalimatnya, ia sudah pingsan begitu saja setelah menaruh bubur di meja. Shen Muqing segera waspada, menatap sekeliling.
Seorang pria berbaju merah kembali muncul di hadapan Shen Muqing, di wajahnya terukir senyum nakal, “Gadis kecil, kau memang ahli membuat masalah, tapi justru aku suka membereskan kekacauan di belakangmu.”
“Apa maksudmu?” Shen Muqing waspada melihat pria itu mendekat, “Kau lagi?”